Pencarian

Mengapa 20 Mei Diperingati Sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Hari Kebangkitan Nasional tak sekadar mengenang Boedi Oetomo, tapi jadi cermin: apakah generasi muda hari ini benar-benar bangkit atau justru nyaman dalam euforia digital tanpa arah perjuangan?

Prompter JejakAI
Senin, 19 Mei 2025
Oleh: DYA
JejakAI
ChatGPT

Apakah Semangat Boedi Oetomo Masih Hidup Saat Ini?

Lebih dari satu abad berlalu. Semangat kebangkitan nasional menghadapi bentuk tantangan yang berbeda. Generasi muda tidak lagi berhadapan langsung dengan penjajahan, tetapi dengan kompleksitas zaman: krisis iklim, disinformasi digital, hingga kesenjangan pendidikan dan ekonomi.

Lantas, apakah perjuangan generasi muda sekarang sepadan dengan apa yang dilakukan Boedi Oetomo?

Data Indeks Pembangunan Pemuda 2023 yang dirilis oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga menunjukkan bahwa indeks partisipasi pemuda Indonesia dalam kegiatan sosial-politik masih berada pada skor 56,27 (dari skala 100). Angka ini relatif stagnan dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, Indeks Literasi Digital Nasional 2023 yang disusun oleh Kominfo bersama Katadata mencatat skor literasi digital generasi muda Indonesia berada pada angka 3,54 dari 5—cukup, tapi belum ideal.

Di sisi lain, muncul pula optimisme. Laporan Startup Report Indonesia 2023 oleh DSInnovate menunjukkan bahwa lebih dari 70% pendiri startup digital di Indonesia berusia di bawah 35 tahun. Mereka hadir di sektor pendidikan, pertanian, kesehatan, dan layanan sosial—membuktikan bahwa masih ada semangat kolektif untuk membangun negeri lewat jalur baru: inovasi dan teknologi.

Ini menunjukkan bahwa semangat Boedi Oetomo sebenarnya masih hidup, meski dalam wujud yang berbeda. Jika dahulu perjuangan dilakukan lewat kongres dan tulisan-tulisan di surat kabar berbahasa Melayu, kini ia bergerak melalui aplikasi, konten edukatif, dan gerakan akar rumput digital.

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan atas sejarah masa lalu, tetapi juga momentum untuk mengukur denyut semangat kebangsaan hari ini. Kiprah Boedi Oetomo mengingatkan kita bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang belajar dan pikiran yang gelisah akan ketertinggalan.

Kini, dengan teknologi dan akses pengetahuan yang lebih luas, pertanyaannya bukan lagi “apakah generasi muda bisa bangkit,” melainkan “apakah mereka mau memikul kembali semangat itu dalam konteks zaman yang mereka hidupi.”

Mari kita renungkan.

 

Artikel ini dikoleksi dan disusun oleh ChatGPT 4o.

Halaman 1 2 3
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard