Pencarian
Kriminologi

Sistem Antropometrik Alphonse Bertillon: Cikal Bakal Identifikasi Kriminal Modern Sebelum Era DNA

Prompter JejakAI
Sabtu, 14 Juni 2025
Oleh: SZA
JejakAI
Leonardo AI

Dunia Kriminologi Sebelum DNA

Sebelum teknologi DNA merevolusi dunia forensik, para penyelidik kriminal di abad ke-19 menghadapi tantangan besar dalam mengidentifikasi pelaku kejahatan yang berulang. Tidak ada basis data biometrik, tidak ada kamera CCTV, dan belum ada pencocokan sidik jari yang sistematis. Dalam kondisi inilah seorang jenius asal Prancis bernama Alphonse Bertillon memperkenalkan sebuah sistem identifikasi yang inovatif dan sangat berpengaruh: antropometri.

Sistem antropometrik ini menjadi fondasi penting dalam dunia kriminologi, dan untuk beberapa dekade menjadi metode utama dalam mengidentifikasi tersangka kejahatan secara ilmiah.



Siapa Itu Alphonse Bertillon?

Alphonse Bertillon (1853–1914) adalah seorang pegawai di Kepolisian Paris yang sangat tertarik pada metode ilmiah dalam mengklasifikasi data kriminal. Ia merasa frustasi dengan sistem pengarsipan manual yang tidak efisien dan penuh kekeliruan, di mana pelaku kejahatan berulang sering kali lolos karena kurangnya sistem identifikasi yang akurat.

Pada tahun 1883, Bertillon memperkenalkan sistem “Bertillonage”, sebuah metode identifikasi individu berdasarkan pengukuran tubuh manusia dan penanda wajah unik, yang didasarkannya pada prinsip bahwa tidak ada dua orang dewasa yang memiliki dimensi tubuh dan wajah yang persis sama.



Apa Itu Sistem Antropometrik?

Antropometri berasal dari kata Yunani "anthropos" (manusia) dan "metron" (ukuran). Dalam konteks Bertillon, sistem ini mencakup pengukuran berbagai bagian tubuh manusia, terutama bagian-bagian yang dianggap tidak berubah setelah dewasa.

Beberapa parameter utama dalam sistem Bertillon meliputi:

  • Panjang kepala
  • Lebar kepala
  • Panjang telinga kanan
  • Panjang kaki kiri
  • Lebar lengan
  • Panjang jari tengah
  • Ukuran hidung
  • Jarak antara dua mata
  • Ukuran daun telinga
  • Panjang lengan dari siku ke pergelangan

Pengukuran ini dikombinasikan dengan fotografi wajah (mugshot) dari depan dan samping, serta deskripsi kualitatif seperti bentuk alis, mata, bibir, atau cacat tubuh permanen (misalnya bekas luka, tahi lalat, atau bentuk telinga yang unik).



Mengapa Sistem Ini Dianggap Revolusioner?

Sebelum Bertillon, identifikasi pelaku kriminal banyak mengandalkan kesaksian saksi mata, catatan tulisan tangan, atau nama dan alamat, yang mudah dipalsukan. Sistem Bertillon membawa objektivitas ilmiah dan standarisasi pengukuran, memungkinkan pihak berwenang untuk mencocokkan identitas seseorang dengan akurasi jauh lebih tinggi.

Bahkan, sistem ini berhasil mengidentifikasi seorang kriminal terkenal yang sebelumnya lolos dari hukuman dengan menyamar sebagai orang lain.



Bertillon dan Penggunaan Foto Kriminal (Mugshot)

Alphonse Bertillon juga dikenal sebagai pelopor sistem foto mugshot modern. Ia mewajibkan pengambilan dua foto: satu dari depan, dan satu dari samping. Foto ini bukan sekadar dokumentasi visual, tetapi menjadi komponen penting dalam proses identifikasi wajah melalui analisis ciri-ciri morfologis.

Hingga hari ini, sistem mugshot yang diperkenalkan Bertillon masih digunakan di seluruh dunia, meskipun telah dilengkapi dengan teknologi digital dan pengenalan wajah otomatis.



Penerapan Sistem Bertillon dalam Kriminologi

Di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem ini diadopsi secara luas di Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa pencapaian utamanya meliputi:

  • Identifikasi residivis (pelaku kejahatan berulang) meskipun mereka menggunakan identitas palsu.
  • Pengelompokan database kriminal secara sistematis untuk investigasi.
  • Standarisasi prosedur forensik dalam kepolisian modern.

Namun, seiring waktu, sistem ini mulai menunjukkan kelemahannya.



Kelemahan Sistem Bertillon

Meskipun sangat inovatif pada zamannya, sistem Bertillon tidak sempurna. Beberapa kritik utama terhadap metode ini:

  • Pengukuran bisa bervariasi tergantung pada siapa yang melakukan dan alat yang digunakan.
  • Kesamaan ukuran tubuh bisa terjadi secara kebetulan pada dua orang yang tidak terkait.
  • Tidak efektif untuk anak-anak atau remaja, yang tubuhnya masih berkembang.
  • Memerlukan pelatihan khusus, dan bisa memakan waktu dalam praktiknya.

Digantikan oleh Sidik Jari dan DNA

Pada awal abad ke-20, sistem identifikasi sidik jari (dactyloscopy) mulai menggantikan metode antropometrik karena lebih sederhana, lebih akurat, dan lebih cepat. Apalagi setelah ditemukannya identifikasi DNA di akhir abad ke-20, pengenalan kriminal menjadi jauh lebih presisi.

Meski demikian, warisan Bertillon tetap hidup. Ia membuka jalan bagi:

  • Biometri modern (pengenalan wajah, iris, atau suara)
  • Analisis wajah otomatis dengan AI
  • Penerapan antropologi forensik dalam kasus kemanusiaan



Selanjutnya: Inspektur Arman dan Kasus Jejak Bayangan

Halaman 1 2
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard