China: Dari “Peniru” Menjadi Inovator
Berdasarkan laporan ASPI (Australian Strategic Policy Institute) Critical Technologies Report (2023), dari periode 2019 – 2023, China telah menjadi pemimpin global dalam 57 dari 64 teknologi frontier, termasuk:
a. Artificial Intelligence (AI)
b. Quantum Computing
c. Neural Chips (Neuromorphic systems)
d. Quantum-Secure Communication
e. Autonomous Weapons Systems
Sebaliknya, Amerika Serikat hanya memimpin di 7 bidang utama, yang mengindikasikan terjadinya shifting center of technological gravity dari Barat ke Timur.
Baca juga: Sekali Lagi, Tentang Membangun Otak Buatan: Guangdong dan Lompatan Menuju AI Generasi Baru
AI: Arena Perang Paradigma dan Infrastruktur antara AS dan China
AS memimpin teknologi sepert ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google DeepMind), dan Claude (Anthropic). Ini merupakan puncak dari pendekatan AS dalam pengembangan AI: mengutamakan simulasi kognitif, pemrosesan bahasa alami (NLP), reinforcement learning, dan infrastruktur cloud. Namun pendekatan ini sangat elit, berbasis venture capital, dan tidak cukup sistemik. Sedangkan China, cenderung lebih melakukan pendekatan aplikasi sistemik dan energi-efisien. Perusahaan seperti DeepSeek, SenseTime, dan iFlytek justru fokus pada AI yang hemat energi dan modular untuk: kota cerdas (smart cities), pengawasan berbasis computer vision, industri manufaktur otonom, militer berbasis AI. Yang paling penting (ini yang membedakan dengan AS), China mendapat dukungan penuh dari negara dalam membangun: AI superclusters, pusat komputasi nasional, edge-cloud ecosystems.
Lebih jauh China juga memimpin dalam pengembangan Komputasi Kuantum & Neuromorfik yang merupakan Senjata Strategis, meliputi: Quantum Communications (Satelit Micius, adalah: Quantum Experiments at Space Scale (QUESS) adalah misi satelit Tiongkok pertama yang dirancang khusus untuk melakukan eksperimen fisika kuantum di luar angkasa, dengan tujuan utama mengembangkan teknologi komunikasi kuantum seperti Quantum Key Distribution (QKD) dan teleportasi kuantum ), Quantum Hardware (National Quantum Laboratory dengan dana US$10 miliar), Neuromorphic Computing (Chip mirip neuron biologis yang hemat energi, menyaingi arsitektur von Neumann). Sementara, Amerika tertinggal karena tekanan politik domestik dan fragmentasi institusional.
Baca juga: AI Next Generation: Perebutan Dominasi antara China dan Amerika Serikat
Distribusi Global: Apa Kata Ekonomi?
Dalam artikel Rod Tyers (2024) di Asian Economic Journal, dijelaskan simulasi makroekonomi atas rivalitas ini:
|
Dampak Rivalitas Teknologi |
Amerika Serikat |
China |
ASEAN / Global South |
|
Output teknologi |
Menurun (3–5%) |
Meningkat |
Meningkat (netral) |
|
Akses pasar |
Terbatas (ekspor dicegah) |
Pasar domestik meluas |
Diperbutkan kedua blok |
|
Investasi Teknologi |
Bergantung ke privat |
Terpusat oleh negara |
FDI masuk besar |
|
Distribusi pendapatan |
Cenderung stagnan |
Relatif lebih merata |
Potensial ketimpangan |
Tyers menyebut rivalitas ini sebagai bentuk bifurkasi teknologi global, menciptakan dua kubu, antara Blok Barat (AS, Jepang, EU, Korea) dengan Blok Timur(China, Rusia, Asia Tengah).
Berikut adalah perbandingan model Inovasi antara: Silicon Valley vs Hangzho
|
Aspek |
Amerika Serikat |
China |
|
Pendekatan Inovasi |
Venture Capital, Startup |
Negara-sentris, Top-down |
|
Fokus Teknologi |
LLMs, Chatbot, NLP |
Industrial AI, Real-world Integration |
|
Infrastruktur |
Cloud, API |
AI Superclusters, Edge-Cloud |
|
Institusi |
Swasta / Universitas elite |
Universitas nasional + industri |
|
Kebijakan Publik |
Minimal regulasi |
Insentif fiskal, arah strategis nasional |
AI dan Ekonomi Politik Global
AI bukan lagi semata teknologi, melainkan menjadi “technostrategic tool” — alat dominasi dalam ranah militer, ekonomi, bahkan budaya. Maka tak heran jika China menganggap AI sebagai strategic enabler setara dengan nuklir dan energi. Dalam arena ini, AS tidak lagi tak tertandingi, dan China tidak lagi hanya “meniru”. Ia sekarang menciptakan teknologi frontier yang berdampak global.
Jika kita tidak memahami pergeseran ini, maka kita tidak hanya kehilangan teknologi — tapi juga arah masa depan.
Referensi
Tyers, R., & Zhou, Y. (2024). Tech wars: Distributional consequences of global tech rivalry. Asian Economic Journal, 38. https://doi.org/10.1111/asej.12335
Wilson, S. (2025). China Takes the Lead in the Global AI Tech Race. Xinhua Global Tech Report.
Artikel 7 — Final: Membangun Alur Kerja Lengkap Big Data × SCM Menggunakan GPT-5: Dari Data Mentah Sampai Insight Manajerial
4 bulan yang lalu
Artikel 6 — Cara Meminta GPT-5 Menginterpretasi Hasil Analisis Big Data dari Google Colab (Seperti Konsultan Profesional)
4 bulan yang lalu
Artikel 5 — Cara Copy Script dari GPT-5 ke Google Colab Tanpa Error: Panduan Super Pemula
4 bulan yang lalu
Artikel 4 — Praktik Lengkap: GPT-5 Membuat Script Big Data untuk SCM (10.000 Baris) — Cleaning, Analisis, Visualisasi
4 bulan yang lalu
Artikel 3 — Belajar Python dari Nol dengan Bantuan GPT-5: Cara Paling Mudah untuk Mahasiswa Pemula Big Data
4 bulan yang lalu
Artikel 2 — Panduan Super Pemula: Cara Menggunakan Google Colab dan Menjalankan Kode dari GPT-5 Tanpa Error
4 bulan yang lalu