Pencarian
Quantum Computing

Artikel 1: Belajar dari China: Saat AI Bukan Lagi Ancaman, Tapi Keterampilan Akademik

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi pusat perdebatan di dunia pendidikan tinggi. Di negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Inggris, universitas masih bergelut dengan dilema etika dan akademik mengenai penggunaan AI oleh mahasiswa. Namun, jauh di Timur, China mengambil langkah yang berbeda: bukan melarang, melainkan mendorong penggunaan AI secara aktif dan sistematis di dalam ruang kelas.

Prompter JejakAI
Selasa, 29 Juli 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI

Universitas di China memberikan contoh bahwa integrasi AI dalam pendidikan bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperluas kompetensi, efisiensi, dan daya saing mahasiswa. Alih-alih melarang, mereka malah mengatur dan mendidik. Alih-alih takut, mereka membuka akses. Seperti dikatakan oleh Zhuo Meifang, peneliti di Warwick University: "Kita perlu mendefinisikan ulang makna 'karya orisinal' di era AI, dan universitas adalah tempat utama untuk memulai percakapan itu."

Baca juga: Dominasi Teknologi Kecerdasan Buatan: Ketika China Melampaui Amerika dalam Lomba AI Global

Dari Larangan ke Literasi

Masih segar dalam ingatan publik ketika mahasiswa China harus menggunakan situs mirror dan VPN untuk mengakses ChatGPT yang diblokir secara nasional. Kala itu, penggunaan AI dianggap sebagai bentuk pelanggaran. Namun, situasi berubah cepat. Sekarang, kampus-kampus ternama seperti Tsinghua, Zhejiang, hingga Renmin University justru mewajibkan literasi AI sebagai bagian dari kurikulum umum.

Survei oleh Mycos Institute (2025) mencatat bahwa 99% dosen dan mahasiswa di Tiongkok telah menggunakan AI dalam kegiatan akademik, dan 60% menggunakannya secara aktif. Ini menunjukkan perubahan paradigma yang besar dalam dunia pendidikan tinggi Tiongkok.

AI sebagai Keterampilan Abad ke-21

Universitas di China menganggapnya sebagai keterampilan penting abad ini. Profesor Liu Bingyu dari China University of Political Science and Law, misalnya, mendorong mahasiswa untuk menggunakan AI sebagai "partner diskusi, sekretaris, pengulas, dan penguji argumen."

Lebih jauh, mahasiswa diajarkan untuk:

a. Menulis literature review dengan bantuan AI

b. Menyusun abstrak dan ringkasan artikel

c. Menghasilkan visualisasi data

d. Mengorganisir gagasan secara sistematis

Baca juga: Sekali Lagi, Tentang Membangun Otak Buatan: Guangdong dan Lompatan Menuju AI Generasi Baru

Dukungan Institusi dan Pemerintah

Langkah pro-aktif ini juga didukung oleh pemerintah pusat. Pada 2025, Kementerian Pendidikan China mengeluarkan panduan nasional "AI+ Education" yang mendorong literasi digital, berpikir kritis, dan penguasaan teknologi praktis sejak jenjang dasar hingga perguruan tinggi.

Hampir 184 sekolah dasar dan menengah di seluruh Tiongkok telah mulai menguji kurikulum AI terbaru dan model evaluasi pembelajaran yang inovatif. Dengan kebijakan pemerintah Beijing yang mewajibkan delapan jam pelajaran AI per tahun ajaran mulai musim gugur ini, para pendidik, pembuat kebijakan, dan inovator teknologi kini harus memperhatikan dengan serius. Di era ketika pendidikan AI bukan lagi wacana, Tiongkok menempatkan diri di garis depan melalui strategi yang sengaja dirancang dan terkoordinasi dengan baik. 

Di Zhejiang University, mata kuliah pengantar AI bahkan menjadi wajib bagi semua mahasiswa mulai tahun ajaran 2024. Universitas-universitas lain menyiapkan infrastruktur internal seperti versi lokal DeepSeek AI yang bisa diakses mahasiswa secara gratis menggunakan akun kampus.

Bandingkan dengan Barat

Sementara itu, universitas di Barat masih menunjukkan sikap ambivalen. Banyak institusi di AS dan Inggris masih menganggap penggunaan ChatGPT sebagai bentuk potensi plagiarisme, bukan sebagai alat bantu belajar. Padahal, laporan dari Stanford University’s HAI (2025) menunjukkan bahwa hanya 35% mahasiswa AS yang antusias terhadap AI, dibandingkan 80% di Tiongkok.

Meski beberapa kampus seperti Northeastern University dan LSE mulai bermitra dengan OpenAI dan Anthropic, pendekatan mereka tetap bersifat selektif dan terbatas pada jurusan tertentu, seperti ilmu komputer.

Mewujudkan Keadilan Digital

Fang Kecheng, dosen di Chinese University of Hong Kong, menekankan pentingnya pendidikan AI untuk mencegah kesenjangan digital antar mahasiswa. "Beberapa sangat fasih menggunakan AI, sementara yang lain tersesat," ujarnya. Literasi AI yang merata menjadi kunci untuk memastikan bahwa semua mahasiswa memiliki peluang yang setara. Lebih dari sekadar alat bantu tugas, AI kini menjadi aset penting di dunia kerja. Data dari YiCai (2025) menunjukkan bahwa 80% lowongan kerja bagi lulusan baru di Tiongkok mensyaratkan keterampilan AI sebagai nilai tambah. Maka, memahami dan menguasai AI bukan lagi sekadar pilihan, melainkan strategi bertahan hidup di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Referensi:

Mycos Institute (2025). Survey on AI in Higher Education,

MIT Technology Review (2025). Chinese universities want students to use more AI.

China’s Systematic Approach to AI in Schools: Curriculum, Evaluation, and the Future, https://www.aicerts.ai/blog/chinas-systematic-approach-to-ai-in-schools-curriculum-evaluation-and-the-future/


Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Prompter JejakAI
8 bulan yang lalu
Pemerintah Tiongkok, melalui Kementerian Pendidikan dan delapan lembaga mitra, baru-baru ini meluncurkan kebijakan pendidikan AI berskala nasional. Kebijakan ini mewajibkan pengintegrasian AI dalam setiap aspek pendidikan: buku teks, materi ajar, dan metode pengajaran. Apa dampaknya bagi siswa? Sekolah dasar: menerima minimal 8 jam pelajaran AI atau modul AI dalam mata pelajaran sains dan teknologi informasi. Sekolah menengah pertama: fokus pada kurikulum AI praktis, termasuk penerapan AI dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah menengah atas: memperdalam kemampuan siswa dalam AI+X, yaitu integrasi AI dengan bidang seperti robotika, drone, ilmu material, bahkan perencanaan karier.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard