Pencarian
Generative AI

Land of Memories, karya Professor Shen Yang dari Tsinghua University: Dari Eksperimen Digital hingga Memenangi Penghargaan

Ketika kecerdasan buatan (AI) merambah ke berbagai sektor kehidupan, dunia sastra yang sangat manusiawipun tidak luput dari sentuhannya. Pada Desember 2023, publik sastra global dikejutkan oleh kabar dari China: sebuah novel fiksi ilmiah berjudul "Land of Memories" karya Profesor Shen Yang dari Universitas Tsinghua, berhasil meraih juara kedua dalam sebuah yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penulis Fiksi Ilmiah Jiangsu. Fakta yang membuatnya semakin fenomenal adalah karena karya ini sepenuhnya ditulis dengan bantuan AI.

Prompter JejakAI
Sabtu, 23 Agustus 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

AI sebagai Rekan Penulis, Bukan Sekadar Alat

Shen Yang memanfaatkan AI bukan  sebagai asisten, melainkan sebagai rekan kreatif. Dengan menggunakan 66 prompt, ia meminta AI untuk membantu mengembangkan narasi, alur cerita, hingga detail ilustrasi. Hasilnya adalah sebuah novel dengan hampir 6.000 karakter bahasa Mandarin dan luarbiasanya dapat diselesaikan hanya dalam tiga jam.

Cerita dalam novel berpusat pada Li Xiao, seorang peneliti metaverse yang bekerja sebagai neuroengineer di dunia nyata. Setelah kehilangan ingatan keluarganya akibat eksperimen, ia mencari jawaban dalam "Negeri Kenangan", sebuah wilayah terlarang di dunia metaverse yang berisi ilusi buatan humanoid dan AI kehilangan memori. Tema identitas, memori, dan batas manusia–mesin membuat karya ini relevan dengan pergulatan filsafat dan teknologi masa kini.

Baca juga: Super AI dan Masa Depan Pendidikan: Dari GPT ke Kecerdasan Otonom

Kompetisi Sastra: Eksperimen AI yang Berbuah Prestasi

Novel ini diciptakan oleh Shen dengan 66 prompt, menghasilkan draf awal sepanjang 43.061 kata, sebelum diringkas menjadi cerita pemenang penghargaan sepanjang 5.915 kata.

Seperti yang dikutip dari China Daily, karya tersebut meraih juara kedua pada Youth Popular Science and Science Fiction Competition ke-5, yang diselenggarakan oleh Jiangsu Popular Science Writers Association di Nanjing. Kompetisi ini diikuti hampir 200 naskah, dengan 90 karya memperoleh penghargaan: enam hadiah khusus, 14 juara pertama, 18 juara kedua, dan 27 juara ketiga.

“Tujuan kompetisi ini adalah untuk mendorong lebih banyak orang agar terlibat dalam penciptaan novel fiksi ilmiah,” ujar Fu Changyi, Direktur Komite Fiksi Ilmiah asosiasi tersebut. “Kompetisi ini terutama ditujukan bagi pemula usia 14–45 tahun. Mahasiswa adalah kelompok peserta yang paling penting.”

Baca juga: Rie Qudan – Pemenang Akutagawa Prize: AI sebagai Mitra Kreatif dalam Sastra Jepang Kontemporer

Fu mengetahui keterlibatan Shen dalam penelitian AI dan sengaja mengundangnya untuk ikut serta. Namun, ia tidak memberi tahu juri bahwa The Land of Machine Memories dibuat oleh AI. “Jadi ini semacam eksperimen kecil,” katanya.

Hasilnya mengejutkan: dari enam juri, tiga orang memberikan suara untuk karya AI ini, sehingga sesuai aturan kompetisi, novel Shen berhak meraih juara kedua.

Kontroversi: Emosi vs Algoritma

Kemenangan ini tentu saja memicu perdebatan. Sebagian kritikus menilai karya berbasis AI cenderung kurang menghadirkan emosi manusiawi yang hidup, sesuatu yang selama ini dianggap inti dari sebuah karya sastra. Namun, Shen menegaskan keunikan karya ini justru terletak pada eksperimen simbiosis manusia–mesin, di mana judul, isi, hingga ilustrasi sepenuhnya dihasilkan oleh AI dari instruksi yang ia susun.

Kritik juga datang dari Fu Ruchu, Direktur Editorial People’s Literature, yang khawatir AI dapat menggerus keindahan dalam bahasa sastra.  Tetapi, ia memperingatkan, seiring berkembangnya AI, “emosi yang hidup dalam sastra bisa semakin langka.”

Fenomena Global: AI dan Sastra yang Memenangkan Penghargaan

Kemenangan "Land of Memories" bukanlah kasus tunggal. Di berbagai belahan dunia, karya sastra berbasis AI mulai menoreh kemenangan mengalahkan karya sastra yang dibuat oleh manusia:

  • - Tahun 2016, novel Jepang "The Day A Computer Writes A Novel" (Konpyuta ga shosetsu wo kaku hi) lolos seleksi awal Hoshi Shinichi Literary Award (The Japan Times, 2016).
  • - Tahun 2020, antologi puisi "I Am Code" yang ditulis bersama AI GPT-3 memicu diskusi kritis tentang estetika baru puisi digital.
  • - Tahun 2024, novelis Jepang Rie Qudan memenangkan Akutagawa Prize dengan novel "Sympathy Tower Tokyo", yang sebagian ditulis menggunakan ChatGPT (The Guardian, 2024).
  • Fenomena ini membuktikan bahwa AI telah menjadi bagian dari ekosistem kreatif global.

Dampak bagi Dunia Sastra dan Pendidikan

Kasus Shen Yang menimbulkan pertanyaan penting: Apakah AI akan menggantikan penulis manusia, atau justru memperluas batas kreativitas manusia?

  • 1. Eksperimen Estetika Baru – AI memungkinkan eksplorasi gaya bahasa, alur, dan tema yang tidak terpikirkan oleh manusia.
  • 2. Demokratisasi Penulisan – Penulis pemula dapat memanfaatkan AI untuk mengatasi hambatan teknis dan menemukan suara kreatif mereka.
  • 3. Kolaborasi Manusia–Mesin – Sastra masa depan tampaknya akan lahir dari simbiosis, bukan dominasi salah satu pihak.


Kesimpulan: AI sebagai Co-Creator Sastra

"Land of Memories" adalah bukti konkret bahwa AI bisa menjadi co-creator dalam dunia sastra, menghasilkan karya yang bukan hanya eksperimental, tetapi juga diakui secara institusional. Dari eksperimen digital sederhana hingga memenangkan penghargaan, perjalanan karya Shen Yang memperlihatkan bahwa batas antara teknologi dan seni kian kabur.

Perdebatan tentang emosi, otentisitas, dan masa depan bahasa sastra akan terus berlangsung. Namun satu hal pasti: AI telah membuka pintu baru, di mana dunia literasi bukan lagi sekadar milik pena manusia, melainkan juga hasil dialog kreatif dengan algoritma.

Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard