Pencarian

Eliza, Nenek Moyangnya ChatGPT dan Chatbot AI

Eliza adalah chatbot pionir dari era 1960-an yang membuka jalan bagi kecanggihan AI percakapan modern seperti ChatGPT dengan cara sederhana namun revolusioner.

Prompter JejakAI
Selasa, 3 Juni 2025
Oleh: DYA
JejakAI

Dari Pola Sederhana ke Pemahaman Kontekstual

Eliza lahir dari ketertarikan Weizenbaum untuk menguji bagaimana komputer dapat berinteraksi menggunakan bahasa alami. Ia merancang Eliza dengan konsep sederhana: mengenali pola kata dan frasa dalam input pengguna, lalu merespons dengan kalimat yang sudah diprogram berdasarkan pola tersebut.

Teknik ini disebut pattern matching. Misalnya, jika pengguna menuliskan kalimat “Saya merasa sedih,” Eliza akan membalas dengan pertanyaan, “Mengapa Anda merasa sedih?” Atau jika pengguna menyatakan sesuatu seperti “Saya takut dengan masa depan,” Eliza bisa merespons, “Apa yang membuat Anda takut dengan masa depan?”

Cara kerja Eliza memang terkesan sederhana dan mekanistis. Ia tidak benar-benar “mengerti” makna di balik kalimat yang diberikan. Semua jawaban berasal dari aturan statis yang sudah diprogram sebelumnya, tanpa adanya pemrosesan bahasa alami yang lebih dalam.

Namun, keunikan Eliza terletak pada kemampuannya membuat pengguna merasa seolah sedang berbicara dengan manusia sungguhan. Ini karena Eliza kerap menggunakan teknik bertanya balik yang mirip dengan gaya psikoterapi Rogerian, sehingga memberikan ruang bagi pengguna untuk menggali perasaannya sendiri.

Sebaliknya, ChatGPT—yang muncul lebih dari lima dekade kemudian—menggunakan arsitektur teknologi yang sama sekali berbeda, yakni model Transformer berbasis deep learning. ChatGPT dilatih dengan data teks dari beragam sumber dalam jumlah sangat besar, memungkinkan model ini memahami konteks, niat, serta makna kalimat dalam sebuah percakapan secara dinamis.

ChatGPT mampu menanggapi berbagai topik secara variatif dan relevan, mulai dari menjawab pertanyaan teknis hingga berdiskusi tentang filsafat.

Selain itu, ChatGPT dapat mengingat informasi dari beberapa pertukaran percakapan sebelumnya dalam satu sesi, sehingga responsnya terasa lebih kohesif dan natural. Sementara Eliza hanya menanggapi input secara satu arah tanpa “ingatan” konteks. ChatGPT juga mampu menghasilkan teks dengan gaya bahasa yang berbeda, membuat interaksi terasa lebih hidup dan personal.

 

Apa yang diwariskan Eliza?

Halaman 1 2 3 4
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard