Pencarian
Film

Review Film SORE (2025): Sebuah Perjalanan Waktu yang Manis, Magis, dan Menghantui Pikiran

Prompter JejakAI
Sabtu, 23 Agustus 2025
Oleh: SZA
JejakAI
GeminiPro

Naskah Cerdas Yandy Laurens: Dari Romansa Manis Menuju Fantasi yang Mengguncang Jiwa

Kekuatan terbesar SORE terletak pada naskahnya yang ditulis dengan brilian oleh Yandy Laurens. Naskah ini memiliki struktur tiga babak yang dieksekusi dengan sangat mulus, membawa penonton dalam sebuah perjalanan emosional yang tak terduga. Babak pertama dibuka dengan nuansa yang "manis dan ringan". Interaksi awal antara Jonathan yang canggung dan Sore yang penuh inisiatif disajikan dengan dialog-dialog jenaka dan momen-momen romantis yang menghangatkan hati, berhasil memikat penonton dan membuat mereka jatuh cinta pada kedua karakter.

Namun, tepat ketika penonton merasa nyaman, film ini dengan berani membelok ke babak kedua yang penuh dengan kepedihan dan patah hati. Taruhan menjadi semakin tinggi, keputusasaan Sore semakin terasa, dan realitas dari misinya yang mustahil mulai terungkap. Di sinilah kedalaman emosional film benar-benar bersinar. Puncaknya adalah babak ketiga yang oleh banyak kritikus disebut "benar-benar mind blowing". Yandy Laurens dengan jenius memutarbalikkan semua ekspektasi penonton. Setiap tebakan mengenai arah cerita berakhir salah, dan film ini bertransformasi dari sebuah drama romantis menjadi sebuah eksplorasi filosofis yang mendalam tentang takdir, penyesalan, dan penerimaan.

Twist yang mengguncang di akhir cerita bukanlah sekadar gimmick, melainkan sebuah "umpan-dan-tukar" naratif yang disengaja. Film ini memancing penonton dengan premis perjalanan waktu yang familiar—yaitu memperbaiki masa lalu—hanya untuk kemudian mendekonstruksi premis tersebut secara total. Penonton, seperti halnya Sore, memulai perjalanan dengan harapan bahwa masa lalu bisa diubah. Namun, kejutan di akhir cerita memaksa karakter dan penonton untuk menghadapi kebenaran yang lebih sulit dan dewasa: bahwa beberapa hal memang tidak bisa diubah. Film ini pada akhirnya berargumen bahwa upaya mengubah takdir adalah sia-sia (futile) dan bahwa kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan untuk menerima ("penerimaan"). Tema penerimaan ini, yang diakui oleh Yandy Laurens dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya setelah menikah dan menjadi seorang ayah, memberikan lapisan kematangan yang luar biasa pada naskah, mengubahnya dari sekadar cerita cinta menjadi sebuah renungan tentang esensi waktu dan eksistensi manusia.

 

Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard