Pencarian

Kecantikan: Antara Sains, Budaya, dan Perasaan

Kecantikan itu rumit. Sebuah konsep yang dikaji lintas disiplin ilmu mengungkap bahwa cantik adalah perpaduan kompleks antara kecenderungan biologis, proses saraf, dorongan evolusioner, dan beragam standar budaya.

Prompter JejakAI
Sabtu, 3 Mei 2025
Oleh: DYA
JejakAI
Diolah ChatGPT
Putri Indonesia 2025 Firsta Yufi Amarta.

Firsta Yufi Amarta dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2025, Jumat 2 Mei 2025 malam. Putri Indonesia perwakilan Jawa Timur itu menggantikan Harashta Haifa Zahra yang menggunakan tiara Puteri Indonesia sejak setahun lalu.

Ajang kompetisi itu menjadi kasta tertinggi kecantikan wanita Indonesia. Namun disadari atau tidak, sejak zaman dahulu, kecantikan telah menjadi misteri yang memikat. Definisinya mengundang perdebatan yang tak pernah sepi sejak dulu.

Namun, ilmu pengetahuan mencoba meredefinisi konsep kecantikan yang sering dianggap subjektif itu. Kajian ilmiah dari berbagai disiplin ilmu berusaha mengungkap definisi kecantikan, menyingkap lapisan-lapisan kompleks yang melibatkan psikologi, neurosains, biologi evolusioner, hingga antropologi.

Benarkah kecantikan sekadar “ada di mata yang melihat”? Psikologi menawarkan berbagai sudut pandang. Gustav Fechner (1801-1887), pelopor psikologi modern, mendefinisikan kecantikan sebagai pengalaman kesenangan yang luas, mencakup segala sesuatu yang secara langsung menimbulkan rasa senang. Semua itu diulas dalam jurnal terbitan 2021 berjudul “Kecantikan, Sebuah Perasaan” yang terbit di PubMed Central.

Diungkap bahwa Berlyne (1974) melihat apresiasi estetika, termasuk kecantikan, sebagai hasil dari pencarian nilai hedonis dan potensi rangsangan yang optimal, yang mengerucut pada kesenangan, kegembiraan, dan kesederhanaan. Lebih jauh, Leder dan Nadal (2014) berpendapat bahwa makna dari sebuah pengalaman adalah inti dari kecantikan, di mana penilaian estetika merupakan hasil evaluasi bertahap yang mencapai penguasaan kognitif. Bahkan, dalam dunia musik, sebuah karya dianggap indah ketika kesenangan yang ditimbulkannya melampaui ekspektasi pendengar.

Vessel dan rekan-rekannya (2013) mengidentifikasi keadaan “tergerak” sebagai kondisi yang setara dengan apa yang orang lain sebut “kecantikan”.Diessner dan rekan-rekannya (2018) menyamakan kecantikan dengan perasaan bahwa berbagai elemen suatu objek secara harmonis bergabung menjadi keseluruhan yang koheren.

Penelitian lintas bangsa dan modalitas menunjukkan bahwa pengalaman kecantikan yang paling tinggi ditandai oleh kesenangan yang intens, kesan universalitas, keinginan untuk melanjutkan pengalaman, melampaui ekspektasi, harmoni dalam variasi, dan kebermaknaan.

 

Apakah sekadar emosional?

Halaman 1 2 3 4
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard