Hatsune Miku dan Gelombang Vokal Sintetik
Jauh sebelum kasus Drake mencuat, Jepang telah lebih dahulu akrab dengan suara yang sepenuhnya buatan. Hatsune Miku, karakter virtual berbasis suara penyanyi Saki Fujita, sudah sejak tahun 2007 menjadi wajah (dan suara) dari Vocaloid, platform produksi musik yang memungkinkan siapa pun menciptakan lagu dengan vokal sintetis.
Dengan tampilan karakter anime dan suara khas remaja perempuan, Hatsune Miku telah membintangi ribuan konser virtual dan mengisi jutaan lagu di berbagai platform.
Yang menarik, suara Hatsune Miku tidak meniru suara manusia terkenal lainnya, melainkan dikembangkan secara legal dari pengisi suara profesional dan diproses menjadi instrumen digital. Berbeda dari fenomena AI voice cloning saat ini, penggunaan suara Miku sepenuhnya transparan secara hukum dan dilindungi lisensi resmi.
Kreator bebas menggunakan suaranya untuk beragam proyek musik, bahkan untuk rilisan komersial, selama mematuhi ketentuan lisensi dari Yamaha dan Crypton Future Media.
Kesuksesan Miku membentuk ekosistem kreatif yang solid. Para pengguna, yang sebagian besar berasal dari komunitas produser musik independen di Jepang, menciptakan lagu, video klip, bahkan konser menggunakan vokalnya. Popularitasnya menandai era baru dalam musik: era di mana suara penyanyi tak lagi dibatasi oleh fisik atau waktu.
Bagaimana cara AI mengkloning suara?
Ozzy Osbourne Legenda Metal yang Tak Pernah Luntur
8 bulan yang lalu
Bruce Willis dan Perjalanan Berat Melawan FTD
8 bulan yang lalu
I Am Iron Man: Kalimat yang Mengubah Dunia Superhero
8 bulan yang lalu
Mariah Carey dan Teknologi Terkini dalam Video Musik Terbarunya
9 bulan yang lalu
Kolaborasi Sam Altman dan Jony Ive Siap Luncurkan Sesuatu yang Baru
10 bulan yang lalu
Kehadiran Dalai Lama di Media Sosial Menebar Kedamaian
10 bulan yang lalu